sport

Di Balik Kritik Pedas untuk Sananta: Analisis Peran Penyerang yang Sering Salah Dipahami

John Herdman tegas bela Ramadhan Sananta dari hujatan netizen. Ini analisis mendalam mengapa performa penyerang tak bisa hanya diukur dari gol.

Penulis:adit
30 Maret 2026
Di Balik Kritik Pedas untuk Sananta: Analisis Peran Penyerang yang Sering Salah Dipahami

Bayangkan Anda adalah seorang pekerja yang tugas utamanya adalah membuka jalan bagi rekan-rekan Anda untuk sukses. Anda bekerja keras, menguras tenaga, dan terkadang harus mengorbankan peluang pribadi demi kepentingan tim. Lalu, di akhir hari, yang dinilai hanyalah apakah nama Anda tercantum di laporan keberhasilan utama. Kira-kira, adil tidak? Itulah analogi sederhana yang mungkin bisa menggambarkan dilema yang dihadapi Ramadhan Sananta di Timnas Indonesia belakangan ini.

Gelombang kritik tajam di media sosial langsung menghantam sang penyerang usai Indonesia menang telak 4-0 atas Saint Kitts and Nevis dalam FIFA Series. Ironisnya, kemenangan gemilang justru menjadi panggung bagi hujatan terhadap satu pemain yang dianggap "tidak produktif". Fenomena ini bukan sekadar soal satu pemain, tapi lebih tentang cara kita, sebagai fans sepak bola, sering kali terjebak dalam penilaian yang dangkal dan instan.

Membaca Permainan di Luar Statistik Gol

John Herdman, sang arsitek, langsung mengambil sikap tegas. Bagi pelatih asal Inggris itu, kritik yang diterima Sananta sudah melampaui batas kewajaran. Dalam sesi latihan di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Herdman dengan gamblang membeberkan perspektif yang sering luput dari mata awam. "Dia adalah lini pertama pertahanan kami," ucap Herdman, menekankan peran Sananta dalam sistem pressing tinggi yang diterapkannya. Pergerakan Sananta yang terus menekan bek lawan, menurut Herdman, secara tidak langsung menciptakan ruang dan waktu bagi pemain seperti Rizky Ridho, Jordi Amat, dan pemain sayap untuk lebih leluasa membangun serangan.

Data dari laporan pertandingan menunjukkan fakta menarik: Sananta melakukan lebih dari 25 tekanan (press) ke area pertahanan lawan, yang merupakan angka tertinggi di antara semua penyerang Indonesia. Dia juga terlibat dalam 12 duel udara, dengan persentase kemenangan di atas 60%. Angka-angka ini mungkin tidak seksi seperti gol, tetapi dalam filosofi pelatihan modern, ini adalah fondasi dari permainan kolektif yang solid. Herdman bahkan membawa contoh konkret dari panggung tertinggi: Olivier Giroud di Piala Dunia 2018. Striker Prancis itu tidak mencetak satu gol pun sepanjang turnamen, namun kontribusinya dalam membuka ruang bagi Kylian Mbappé dan Antoine Griezmann diakui sebagai kunci kesuksesan Les Bleus meraih gelar juara dunia.

Budaya Kritik di Era Digital: Pedang Bermata Dua

Di sini, kita perlu menyelami lebih dalam budaya supporter sepak bola Indonesia di era media sosial. Sebuah studi yang dilakukan oleh Pusat Kajian Olahraga Universitas Indonesia pada 2023 mengungkapkan, lebih dari 65% kritik terhadap pemain Timnas di platform digital bersifat reaktif dan hanya berfokus pada momen akhir (end product), seperti gagal mencetak gol atau kesalahan passing yang berujung pada peluang lawan. Hanya kurang dari 20% yang memberikan kritik konstruktif dengan menyertakan analisis peran taktis.

Opini pribadi saya, fenomena ini adalah cerminan dari cara kita mengonsumsi sepak bola. Kita terbiasa dengan highlight berdurasi 3 menit yang hanya menampilkan gol dan peluang gagal. Kita jarang menyaksikan rekaman penuh 90 menit yang menunjukkan pergerakan tanpa bola, kerja keras menutup passing lane, atau usaha membuka ruang. Akibatnya, pemain seperti Sananta, yang kontribusinya tersebar di seluruh lini lapangan, mudah menjadi kambing hitam ketika statistik golnya kosong.

Dampak Psikologis dan Masa Depan Timnas

Herdman tidak hanya membela dari sudut pandang taktis, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan dan psikologi tim. "Sulit bagi saya melihat seorang pemain yang begitu bangga mengenakan jersey Merah-Putih mendapat perlakuan seperti ini," ujarnya dengan nada prihatin. Poin ini krusial. Kepercayaan diri adalah modal utama seorang penyerang. Kritik yang destruktif dan masif di media sosial berpotensi menggerus mental pemain, tidak hanya Sananta, tetapi juga pemain muda lainnya yang mungkin takut mengambil risiko karena khawatir akan dibully.

Bayangkan jika setiap pemain yang mendapat kesempatan mencetak gol tapi gagal, langsung dihujat habis-habisan. Bisa dipastikan, tim akan diisi oleh pemain-pemain yang bermain aman, enggan mengambil inisiatif, dan takut bereksperimen. Padahal, sepak bola level tinggi membutuhkan keberanian dan kreativitas. Herdman sedang membangun budaya baru di Timnas Indonesia—budaya yang melindungi pemainnya, percaya pada proses, dan menilai kontribusi secara holistik, bukan parsial.

Refleksi Bersama: Menjadi Supporter yang Lebih Bijak

Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari kasus Sananta dan respons Herdman ini? Pertama, kita perlu menggeser pola pikir dari supporter yang hanya menuntut hasil, menjadi pengamat yang menghargai proses. Kedua, media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berdialog dan berdiskusi sehat tentang taktik dan performa tim, bukan tempat melampiaskan emosi dengan kata-kata kasar yang personal.

Pada akhirnya, Timnas Indonesia adalah proyek jangka panjang. Kemenangan 4-0 adalah hasil yang bagus, tetapi yang lebih penting adalah fondasi permainan dan mentalitas tim yang sedang dibangun Herdman. Mari kita dukung dengan cara yang cerdas: kritikilah jika perlu, tetapi lakukan dengan data dan argumentasi yang membangun. Beri apresiasi untuk kerja keras, bukan hanya untuk gol yang tercipta. Karena seperti yang diingatkan Herdman, "Kita harus lebih baik sebagai sebuah bangsa." Dan menjadi supporter yang sportif, informatif, dan mendukung di saat sulit adalah langkah pertama menuju ke arah sana. Bagaimana pendapat Anda? Sudahkah kita menjadi bagian dari solusi, atau justru bagian dari masalah?

Dipublikasikan: 30 Maret 2026, 14:27
Di Balik Kritik Pedas untuk Sananta: Analisis Peran Penyerang yang Sering Salah Dipahami